Setelah baca-baca di
http://www.bangyos.com/id_berita-isi.php?cid=1&id=526
Sebagai calon pemilik mobil mewah 20 tahun lagi, gw setuju banget peraturan itu,, motor emang bikin ribet jalanan, bikin calon mobil mewah gw jadi berisiko susah lewat di jalan protokol, karena jalanan kepenuhan kendaraan roda dua berseliweran.
Malah kalo bisa motor jgn dikasi jalur lambat, naik aja ke trotoar sekalian, samain ama pejalan kaki, biar aman, safety, gak bisa kenceng-kenceng, dan biar gak usah wajib pake helm juga, karena kecepatan di bawah 10 km/jam.
Lagian, yang bayar pajak lebih banyak dari pajak kendaraan roda empat. Jadi secara de facto, hak ’saham’ kepemilikan jalan raya jauh lebih berhak kendaraan roda empat, apalagi mobil mewah. Jadi kendaraan sebangsa motor cukup di trotoar aja ya..
Faktanya liat seperti Jl. D.I. Panjaitan sekitaran jam 8-an pagi. Bagi pengguna non sepeda motor, di jalur cepat terasa begitu indah, nyaman, tenteram, adil, makmur & sentosa. Tidak ada lagi kemacetan disitu. Terasa indah hidup di Jakarta, andai di semua jalan raya di Jakarta seperti itu. (tolong jangan dibahas tragedi apa yg terjadi di jalur lambat ya
)
Jadi sebagai calon pemilik mobil mewah 20 thn lagi, gw akan mengusulkan ke Pemprov DKI, supaya kendaraan roda dua supaya dihapus dari Jakarta ini, seperti model genocide bajaj. Karena cuma bikin rusuh jalanan dan pengganggu kenyamanan pemilik mobil.
Heuehueheu,
ttd,
Aqiel
Calon pemilik mobil mewah 20 thn lagi
karena
rupanya jalanan Jakarta ternyata milik yang punya mobil,,,
